Kondisi tubuh yang lelah setelah seharian beraktifitas adalah tanda bahwa tubuh kita telah menguras banyak energi dan membutuhkan istirahat. Bentuk istirahat seperti apa yang paling dibutuhkan oleh tubuh kita? Tidur adalah jawaban yang paling tepat. Tidur pun tidak bisa sembarangan, untuk mendapatkan tidur yang berkualitas ada beberapa posisi tidur yang baik untuk kesehatan dan harus diperhatikan. Setiap orang dengan rentang usia tertentu memiliki jumlah waktu wajib tidur yang berbeda-beda. Bayi memerlukan tidur 14 – 17 jam per hari, balita 10-13 jam per hari, remaja 8-10 jam per hari dan dewasa 7-9 jam per hari. Disamping seberapa lama waktu tidur juga ada hal penting yang perlu diperhatikan sebagai syarat untuk mendapatkan tidur yang berkualitas, yaitu pola dan posisi tidur. Pola dan posisi tidur yang baik untuk kesehatan perlu Anda ketahui dan diterapkan sebaik mungkin. Dan ternyata pola tidur Nabi Muhammad SAW adalah cara tidur yang paling sehat dan telah diakui oleh berbagai pakar kesehatan. Salah satunya adalah memadamkan lampu ketika tidur. Mengapa? Kita cari tahu yuk!

1. Memadamkan Lampu

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Padamkanlah lampu-lampu di malam hari pada saat kalian tidur malam, kuncilah pintu dan tutuplah bejana, makanan dan minuman.” Apa hikmah di balik ajaran Rasulullah SAW ini? Ternyata mematikan lampu pada saat tidur bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Sebuah penelitian yang dilakukan ahli biologi Joan Robert menujukkan, tubuh baru bisa memproduksi hormon melatonin pada saat tidak ada cahaya. Hormon melatonin diproduksi oleh kelenjar pineal dan antara lain berfungsi untuk mengatur ritme tidur, meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan jantung, menghambat peningkatan kolesterol, dan berfungsi sebagai antikanker.

Dampak serius bisa kita lihat dalam jurnal Cancer Genetics and Cytogenetics. Tulisan tersebut mengulas jika penerangan yang menggunakan cahaya buatan akan berdampak pada jam biologis tubuh dan dapat menjadi pemicu ekspresi berlebihan dari sel-sel yang dikaitkan dengan pembentukan sel kanker. Begitu juga dengan penelitian dari Society for Neuroscience, di San Diego tahun 2010. Temuan menjelaskan tentang korelasi antara cahaya lampu dan tingkat depresi. Pekerja shift malam dan orang lain yang selalu terkena cahaya di malam hari akan meningkatkan risiko gangguan mood atau depresi.

Semua penelitian ilmuan barat ini tentu menjadi penguat dari Hadist Nabi Muhammad SAW tentang perintah tidur di dalam gelap. Menurut beberapa peneliti di Universitas Stanford di California, Amerika Serikat, cahaya lampu yang menyala saat tidur dapat mempengaruhi hormon dalam tubuh, mengganggu kesehatan mata, dan bahkan berisiko meningkatkan pertumbuhan sel kanker dalam tubuh. Dilansir dari Vemale, ada fakta mengejutkan bahwa wanita yang tidur dengan lampu menyala bisa memiliki risiko kanker payudara lebih tinggi dibandingkan mereka yang memilih gelap atau memakai cahaya remang-remang saat tidur.

2. Tidur lebih awal Selepas Sholat Isya

Nabi Muhammad menganjurkan agar umat islam secepatnya tidur setelah Isya jika tidak ada urusan lain. Jika dikaji dari segi kesehatan, malam adalah ekskresi hati dalam menetralkan racun, sehingga perlu kadaan yang tenang. Namun apabila kita begadang maka sekresi ini tak berjalan lancar sebagaimana mestinya. Sehingga dalam kurun waktu yang panjang dapat menyebabkan penyakit kanker hati.

3. Posisi Tidur Miring ke Arah Kanan

Berdasar studi yang dilakukan pada 2003 dan dimuat The Journal of American College of Cardiologi yang dimuat New York Times 21 Februari 2011, tidur dengan posisi miring ke kanan lebih aman daripada miring ke kiri. Hal itu dikarenakan tidur dengan posisi miring ke kanan bisa mengurangi risiko kegagalan fungsi jantung. Sebab, saat posisi tubuh miring ke kanan, membuat jantung yang berada di bagian kiri tidak tertindih oleh organ yang lainnya.

Dalam HR. Al-Bukhari no. 247 dan Muslim no. 2710, Nabi Muhammad SAW mengatakan agar “Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” Pada zaman dahulu, orang mungkin berpikir bahwa Islam memang mengutamakan kanan dibanding kiri, sehingga anjuran ini merujuk pada keutamaan tadi. Namun ternyata, perintah Nabi ini memberikan efek medis yang begitu menakjubkan. Ilmuan menemukan manfaat-manfaat ini di jaman sekarang, padahal Nabi sudah mengetahuinya sejak 1400 tahun silam.

4. Meletakkan tangan kanan di bawah pipi kanan

Ternyata Nabi lebih senang tidur dengan beralaskan tikar yang terbuat dari dari kulit binatang yang diisi dengan sabut. Posisi tubuhnya jika tidur menghadap ke arah kanan dan tidak pernah bertelungkup. Kepalanya diberi alas sebagai bantal. Namun kadang-kadang menggunakan salah satu tangannya yang diletakkan di bawah pipinya. Ternyata dibalik kesederhanaan ini, ada manfaat medis yang coba diajarkan Nabi Muhammad. Ternyata tidur beralaskan tangan akan membuat posisi kepala, leher dan punggung tercipta garis lurus. Memang, leher yang tidak lurus pada saat tidur menyebabkan sakit leher pada saat bangun atau biasa disebut tengengen dan hal ini terkadang sampai berhari–hari lamanya, sehingga mengganggu aktifitas.

5. Tidak Tidur dengan Posisi Terlentang

Nabi Muhammad SAW juga melarang umatnya untuk berlama-lama tidur terlentang. Mengapa demikian? Ternyata setelah dikaji secara medis, tidur deng posisi ini menekan atau menyesakkan tulang punggung, bahkan kadangkala bisa menyebabkan kita ingin ke toilet. Selain itu, menurut penelitian Dr. Zafir al-Attar, seseorang tidur dengan cara terlentang akan menyebabkan seseorang bernafas melalui mulutnya. Padahal manusia harusnya bernafas melalui hidung, bukan mulut. Hal ini dikarenakan pada hidung terdapat bulu-bulu halus dan lendir yang dapat menyaring kotoran yang ikut terhisap bersama udara yang kita hirup. Bernafas melalui mulut merupakan salah satu penyebab seseorang rawan terkena flu. Selain itu bernafas lewat mulut akan menyebabkan keringnya rongga mulut sehingga dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada gusi.

6. Tidak Tidur dengan Posisi Tengkurap

Rasulullah SAW melarang umatnya tidur tengkurap. Larangan itu muncul dari kisah Ya’isy bin Thikhfah Al-Ghifari. Dalam suatu kesempatan dia bercerita, “Bapakku menceritakan kepadaku bahwa ketika aku tidur di masjid di atas perutku (tengkurap), tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan kakiku dan berkata, “Sesungguhnya tidur yang seperti ini dimurkai Allah.’ Bapakku berkata, “Setelah aku melihat ternyata Beliau adalah Rasulullah SAW.” (HR. Thabrani). Ilmu kedokteran modern telah membuktikan bahayanya tidur dengan posisi tengkurap. Apalagi saat tidur pulas dan lama, tengkurap otomatis membuat otot dada atau otot pernafasan tidak dapat mengembangkan dada secara baik dan maksimal. Sehingga aliran oksigen menjadi lebih sedikit dan berakibat sesak nafas. Tidur pada sisi kiri badan juga berbahaya. Sebab, organ-organ bisa menghimpit jantung sehingga sirkulasi darah terganggu dan mengurangi pasokan darah ke otak.

Seseorang yang tidur dengan cara tengkurap di atas perutnya setelah suatu periode tertentu akan mengalami kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya akan menekan ke arah dada yang menghalangi dada untuk merenggang dan berkonstraksi saat bernafas. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya kekurangan asupan oksigen yang dapat mempengaruhi kinerja jantung dan otak. Peneliti dari Australia, Dr. Zafir al-Attar menyatakan bahwa terjadi peningkatan kematian pada anak-anak sebesar tiga kali lipat saat mereka tidur tengkurap dibandingkan jika mereka tidur dengan posisi menyamping. Tidur dengan posisi tengkurap pada periode tertentu akan menyebabkan perut kesulitan bernafas karena seluruh berat badannya menekan ke arah dada.

 

 

 

 

 

Bagikan via :